Cara air mata berubah jadi Batu kristal itu keluar lewat kelopak mata Tina Agustina.


 
 Sumber: google image

Air mata Tina Agustina sejak kecil sama seperti orang lain. Tapi sejak September 2011, air mata gadis berusia 19 tahun itu kabarnya bisa berubah menjadi batu kristal. Batu kristal itu keluar lewat kelopak dua matanya di bagian bawah.
Batu kristal itu tiba-tiba muncul dari ujung bawah kelopak mata kirinya. Rahasia itu terungkap saat Tina yang hadir di acara kampanye pemilihan kepala desa setempat, tiba-tiba menitikkan air mata kristal. ”Dari situ orang-orang yang melihat jadi ribut lalu menyebar ke mana-mana,” ujarnya.
Selama dua hari observasi, kata Iman, tidak ada batu air mata kristal yang keluar. Menurut pengakuan Tina, air mata kristal itu biasanya keluar kalau dia sedang sedih, kesal, marah, dan terlalu senang. Setelah itu, RSUD Sumedang merujuk Tina agar diperiksa ke dokter RS Mata Cicendo, Bandung. Saat diperiksa dokter sekitar setengah jam, tak ada air mata kristal yang keluar. Kabarnya, menurut Tina juga staf hubungan masyarakat RSUD Sumedang, Iman Budiman yang ikut mengantar, batu itu sempat muncul di tengah perjalanan ke rumah sakit. Ia memeriksa mata, penglihatan, dan gerak bola mata Tina. ”Kesimpulannya mata pasien normal, tapi asal batu tidak ditemukan,” katanya seusai memeriksa Tina.
Selain itu, rumah sakit juga mengirim tiga butir batu kristal terbaru yang disebut keluar dari kelopak mata pasien untuk diperiksa laboratorium Geologi, Bandung. Kedua pemeriksaan secara medis dan geologis tersebut untuk menemukan jawaban: apakah benar batu kristal itu berasal dari air mata atau batuan alam.
Sebelumnya, kata Hikmat, ada dua laporan serupa di dunia. Dia mengaku mengeluarkan air mata seperti kristal, bening, dan terasa seperti pasir. Secara medis, kata Hikmat, sejauh ini diketahui tiga kemungkinan terjadinya air mata kristal. Gejalanya berupa penumpukan kristal di kornea dan conjunctiva (garis dan permukaan mata). Terdapat batu pada saluran pengeluaran air mata sehingga menimbulkan benjolan di kulit wajah di bawah kelopak mata. Kalau dikeluarkan, batu-batu kristal itu berwarna kekuningan dan tidak beraturan bentuk dan ukurannya. ”Batu ini tidak mungkin bisa balik lagi ke arah mata,” katanya.
Kristal putih, kata Hikmat, tertanam di selaput lendir mata pasien. ”Umumnya terjadi pada penyakit radang mata yang telah lama dan kronis. Nah, kasus yang dialami Tina Agustina tidak masuk ke dalam tiga jenis kelainan itu. Kesimpulannya, benda yang disebut air mata kristal dari kelopak mata Tina itu merupakan material sintetis yang telah diproses, dan bukan hasil produksi tubuh manusia. Lalu bagaimana benda itu bisa keluar dari kelopak mata Tina?
Seorang dokter mata mengatakan, orang yang berani bisa memasukkan benda sekecil itu ke balik kulit kelopak mata dan disimpan di atas dekat ujung alis. Benda itu bisa turun sendiri lalu muncul di kelopak mata bawah. Namun Tina yang dihubungi  membantah melakukan rekayasa seperti itu. Saat mendapat contoh tiga benda air mata kristal itu pada Jumat pekan lalu dari RS Mata Cicendo, Bandung, kata Yunus, ketika dipegang terasa keras, berwarna bening, dan bentuknya seperti kristal. Peneliti, kata Yunus, sudah bisa menarik kesimpulan dari temuan awal itu. ”Masyarakat mau lihat batu kristal itu tidak masalah, kita menjaga saja keamanan dan ketertibannya,” ujarnya.
Ada – ada saja. Maksudnya apa ya….
Sumber: Tempo.co